Postingan kali ini gue mau mencoba sedikit puitis. Karena gue dapet tugas dari ibu guru bahasa indonesia tersayang, beliau bernama Ibu Sri, nyuruh anak-anak buat buat puisi pendek berdasarkan instruksi di kertas yang di kasih sama dia.
Puisi sendiri punya makna yang tersirat menurut gue. kebanyakan sang penulis sih membuat puisi dengan makna tersirat, jadinya puisinya lebih kena di hati.
"Tau dari mana wil?"
"Auk dari mana, gue juga gak tau"By the way, gue kurang suka sama puisi yang banyak aturan. puisi itu kan kebanyakan ungkapan hati, masa ungkapan hati di atur-atur. Kita mau galauin siapa juga di atur-atur, kita mau mikirin siapa juga di atur-atur. Pokoknya semuanya di atur-atur sama yang suka ngatur-ngatur.
Ya udah, coba baca secarik dari tumpahan pemikiran dari otak gue..
KEINGINAN
Aku ingin mencapai langit tertinggi dan bertemu dengan
seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya, dengan paras wajahnya yang
putih bersinar, tanpa titik air mata dari bola matanya
SIMILE
Suara
tangisnya, seperti seseorang yang menginginkan bantuan
Namun
tanganku tak dapat disana, mirip induk kucing yang meninggalkan anaknya
Hanya bisa
melihatnya dari jauh, seperti orang buta yang hanya terperangkap dalam
kegelapan
Dan hanya
bisa berharap, seperti langit yang selalu merindukan bulan
BUNYI
Aku hanya
bisa merasakan suara denting bel itu
Hanya bisa
diam tanpa gerak badan sedikit pun
Melihat
kucing-kucing itu lewat di depanku
Dan suara ti
nut ti nut itu pergi menjauh
ALAM
Laut itu
adalah kumpulan tangisnya yang sedu
Terbentang
biru, itu sudah sekian tahun yang lalu, sejak kepergianmu.
Waktu itu
awan tak tampak ceria.
Dan kau
meninggalkan ku di bawahnya.
MIMPI
Aku
bermimpi, sinar jingga itu mulai menyambut datangnya malam
Suara burung
hantu kala itu tak lupa memeriahkan gelapnya malam
Tak ada seorang
pun yang ada di tempat itu
Hanya aku
dan dan seribu kenanganku
FANTASI TAK
MASUK AKAL
Tangisannya
mencakar langit kala itu
Burung camar
pun terbang merendah seturut datangnya hujan
Langit abu-abu
kala itu merenggut hatiku
Mengingatkanku
saat kau meninggalkanku
METAFOR
Langit
abu-abu kala itu adalah suasana hatinya
Elang yang
mencengkram erat mangsanya kala itu adalah rasa sakit hatinya
Pria yang
buta akan kehidupan adalah bagian dari perasaan gundahnya
Aku tahu
lautan biru itu adalah kumpulan air matamu
Dan akhirnya
aku tahu mawar merah itu adalah dimensi dari hatimu
MENJELMA
HEWAN, MENJELMA BENDA
Kau
mencakarku dan merenggut perasaanku
Suara rintik
hujan kala itu membuatku terdiam
Oh itu
ternyata, sayapmu yang membawa ku terbang jauh
Rumah hatimu
telah menyelamatkanku
Kurang bagus ya? maklum masih amatir, namanya juga baru belajar.
Bagus ya? Aduh makasih ya *cipok basah*
*wussshhhhh*
-->

No comments:
Post a Comment